Jadi belakangan ini aku memulai sebuah proyek, apa itu? Menulis surat. Kedengarannya biasa ya. Tapi untuk siapa? Hayo ada yang bisa tebak gak? Untuk suamiku. Oke, ini mulai terdengar aneh.
Jadi tujuan menulis surat ini adalah bercerita tentang pengalaman menarik sehari-hari yang nantinya akan 'worth' untuk diceritakan ke suami kalo udah punya. Kalo lagi bosen gak ada bahan obrolan, buka aja suratnya. Dan di tiap surat aku tulis kolom 'Read: ... ' untuk tau tanggal dibacanya kapan, dan tentu saja ada tanggal penulisan suratnya. Hahaha, semoga saja ini ide yang bagus. Sejauh ini udah 4 surat yang kutulis. Seru banget lho, entah kenapa, ada sensasi tersendiri saat menulis surat untuk seseorang yang bahkan kita belum tau siapa. Mungkin ini aneh, tapi seru. Mungkin anda-anda ada yang ingin mencoba juga? Bisa kita lihat hasilnya kira-kira 4-5 tahun ke depan (atau lebih cepat :p). Hahaha.
PS. Jadi penasaran, siapa ya yang bakal baca surat-suratku itu? Hus, gak usah pikirin itu dulu, bikin laporan biokim aja dulu sana.
Wednesday, 30 April 2014
Wednesday, 16 April 2014
Cinta yang Tersasar pt. 2
Segera istighfar sebelum semua kekal,Mari luruskan lagi niat dan bersihkan hati. Tak perlulah mengharap hal macam-macam, karena sungguh, pengharapan hanyalah pada Allah saja, karena Ialah yang tau apa yang terbaik buat kita, dan kepada-Nya jualah kita akan kembali. Tak usahlah mendoa jodoh seseorang yang spesifik. Apa yang kita pikir baik buat kita, belum tentu pula baik, dan apa yang kita sangka buruk untuk kita, belum tentu juga buruk, sungguh Allahlah yang Mahatahu, mohonkan pada-Nya agar mendapat yang terbaik sesuai pilihan-Nya.
segera sudahi sebelum tertinggal sesal,
karena nafsu itu membutakan akal.
-Felix Siauw
Mari tuntun kembali cinta yang tersasar ke jalan cinta ilahi.
Tuesday, 15 April 2014
Cinta yang Tersasar
Telah lama cinta terbiar, dari cinta yang suci,
Telah lama cinta tersasar, dari cinta hakiki.
-Raihan, Cinta Hakiki
Ah, begitu rumitnya bila membicarakan cinta. Ada orang yang dengan begitu mudahnya jatuh cinta pada seseorang, namun ada pula orang yang sulit untuk mencintai. Ada yang membatasi definisi cinta sebagai cinta dengan lawan jenis, namun ada juga yang lingkup cintanya luas, menyelimuti seluruh alam semesta. Satu hal yang sering menimpa kita umat manusia adalah kita seringkali salah dalam memutuskan apa yang ingin kita cintai.
Memang cinta tidak bisa dipaksakan, terkadang ia muncul tanpa diundang, dan akan sangat sulit untuk memaksanya menghilang. Yang bisa kita lakukan untuk membersihkan hati dari cinta yang salah adalah dengan mendekatkan diri kepada Allah dan berusaha mencintai Allah. Cinta itu memang tidak bisa dipaksakan, tapi ia bisa diusahakan. Meminjam kata-kata Salim A. Fillah, cinta adalah kata kerja. Kadang memang diperlukan usaha untuk bisa mencintai sesuatu. Perlu usaha yang keras untuk bisa bangun malam dan bermunajat pada Allah. Butuh usaha luar biasa untuk merelakan harta kita dikeluarkan untuk zakat dan infaq. Perlu usaha yang tidak ringan dalam menahan lapar dan haus saat berpuasa. Pun usaha keras juga harus diberikan dalam menghindarkan diri dari hal-hal yang dibenci Allah, seperti berbagai kegiatan maksiat yang hakikatnya hanyalah pemuas nafsu belaka. Usaha juga diperlukan dalam membatasi diri agar tidak berlebihan dalam hal-hal yang mubah.
Setelah usaha kita lakukan, pasrahkan semuanya pada Allah sahaja. Ialah yang menggenggam hati kita, dan sungguh, Allah telah memisahkan antara kita dan hati kita. Mohonlah pada-Nya agar dikaruniakan cinta kepada-Nya, setelah usaha-usaha mencintai itu kita lakukan. Mohon pada-Nya agar cinta-cinta kita yang telah tersasar kembali menemukan jalannya menuju surga.
Sedikit kutipan kesukaan saya tentang cinta kepada ummat yang diambil dari perkatan Ust. Rahmat Abdullah, Allahuyarham.
“Dakwah adalah cinta dan cinta akan meminta segalanya darimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk dan tidurmu. Bahkan lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yang kau cintai. Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan. Justru karena semua inilah akhirnya menjadi adaptasi bagi iman yang luhur. Teruslah bergerak hingga kefuturan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah bertahan hingga kefuturan itu futur menyertaimu. Tetaplah berjaga hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”
Yogyakarta, Indonesia
15 April 2014, 22:22
H-1 responsi parasitologi blok 2.5
Sunday, 6 April 2014
Iman
Al-imaanu yaziid wa yanqus.Iman itu senantiasa bertambah dan berkurang. Ia bertambah dengan laku ketaatan, dan berkurang dengan buat kemaksiatan. Dan bila kita mau jujur terhadap diri kita, perbuatan ketaatan atau kemaksiatan keduanya sepenuhnya pilihan kita. Kita tak bisa menyalahkan takdir setelah berbuat maksiat. Memang ada masanya iman kita melemah, tapi apa yang lantas harus kita lakukan untuk membuatnya naik lagi? Tetap berada pada sunnah Nabi, dengan begitu kita akan selamat.
Wallahua'lam
Sunday, 23 March 2014
The Brother
Kita tidak pernah bisa memilih di mana kita dilahirkan, siapa orang tua kita, dan sesiapa saja yang singgah dalam kehidupan kita. Namun kini aku ingin sedikit bercerita tentang seseorang yang telah mengenalku seumur hidupnya, dari sejak aku belum ada di muka bumi ini.
Well, some of may have known his name, it's Muhammad Azzam. Tapi aku memanggilnya kakak. Jujur, dia merupakan salah satu orang paling berpengaruh dalam hidupku. Sejak kecil sampai SMP, kami bersekolah di sekolah yang sama (kecuali waktu TK). Secara umur kami berselisih 2 tahun, tapi secara akademik hanya 1, jadi lingkungan pergaulan kami masih lumayan dekat. Sejak kecil, kami banyak melakukan hal-hal bersama-sama. Acara tontonan teve kami sama. Ketertarikan kami sama-sama di bidang sains. Bahkan sampai pandangan politik kami pun hampir sama, cuma dia agak sedikit lebih ekstrem dari saya. (maap ya kak ._.v)
Waktu masih sekolah dulu, waktu SD, kami selalu pulang bersama-sama, naik angkot dan ojek. Lalu melakukan rutinitas yang sama: mandi, salat ashar, nonton teve sambil makan sore (karena sekolah kami full day school, kami baru sampai rumah pukul 3 sore) sampai waktu maghrib datang. Lalu kami salat maghrib berjamaah, biasanya sama Abi kalau Abi sudah pulang kerja. Lalu kami tilawah. Waktu SD dulu, "kewajiban" tilawah harian kami ditentukan kami kelas berapa: waktu kelas 3 ya 3 halaman, kelas 4 ya 4 halaman, dan seterusnya. Biasanya setelah itu kami menyempatkan nonton teve (sebisa mungkin gak ketahuan Abi Ummi, hehe) tapi cuma sebentar karena kami harus mengerjakan PR. Setelah mengerjakan PR kami salat Isya dan tidur pukul 20.00. Hampir setiap hari rutinitas itu kami jalani. Lalu pada Jumat dan Sabtu malam, kami mendapat kompensasi untuk tidur pukul 22.00 karena biasanya ada film action seru di Trans TV. Hari Sabtu rutinitas tak tentu, dan hari Minggu, kami main game Harvest Moon di Playstation 1 dari pukul 9.00 - 15.00. Selalu begitu setiap minggu. Dan harus kuakui, game Harvest Moon yang paling menyenangkan memang yang di PS 1, yang di PS 2 dan 3 mengecewakan -..-
Saat SMP dulu, kami sama-sama bersekolah di SMPIT Al-Kahfi Islamic Boarding School. Semacam pesantren, tapi pakai kurikulum dari Diknas, bukan Depag. Jadi ini SMP, bukan MTs. Karena kakakku ikhwan, aku tidak bisa bertemu dengannya setiap hari. Namun karena dia memang 'ahli' komputer dari kecil, dia jadi asisten Pak Kiki di laboratorium komputer, dan aku mengikuti jejaknya di tahun-tahun berikutnya. Pada masa SMP inilah kami mulai bertemu dengan pelajaran Biologi, Fisika, dan Kimia. Fisika selalu menjadi fokus utama kakakku dulu. Karena aku memang anak yang 'ikut-ikutan', aku juga 'menganggap' kalau aku suka Fisika. Jadi aku mulai menanamkan kecintaanku pada pelajaran itu. Apalagi gurunya Pak Ilyas sama Pak Nunu, makin deh (makin apa? :p). Yaa pokoknya aku berhasil 'memaksakan' dalam pikiran bahwa aku suka Fisika, sampai akhirnya benar-benar suka. Gak sesuka itu sih, cuma sering jadi 'amazed' aja sama ilmu tersebut, khususnya Fisika Teori yang banyak membahas masalah-masalah filosofis seperti bagaiman alam semesta tercipta, bagaimana ia akan berakhir, apakah kita satu-satunya makhluk hidup, apa yang terjadi kalau atom dibelah, dan lain-lain. Tapi ternyata kakakku gak begitu tertarik dalam membahas masalah-masalah teoretis seperti ini, dia lebih suka hal-hal yang mekanis. Dasar lelaki (?)
Selain dari aspek sekolah, kakakku juga banyak mempengaruhiku dari aspek acara TV. Dulu aku bahkan sama sekali nggak tertarik untuk nonton Top Gear, tapi karena "terpaksa" ikutan nonton pas dia nonton, Top Gear jadi salah satu acara TV favoritku. Selain membahas dunia otomotif, pembawa acaranya humoris banget; Jeremy Clarkson si gorila, Kapten Lambat James May, dan Richard Hammond si pendek (relatif terhadap Jeremy, haha). Dan ternyata masing-masing mereka punya acara TV sendiri, favoritku James May's Man Lab. Dari kakakku pulalah aku belajar mendownload segala macam lewat torrent, dan sekarang aku sudah 'mendakwahkan' penggunaan torrent ke beberapa temanku, meskipun speedy mulai mem-blok thepiratebay, sedih :" (tapi untung masih ada proxy).
Sudah ah, intinya aku bersyukur banget punya dia sebagai kakakku. Meskipun di berbagai aspek dia gak bisa dijadikan teladan (haha maap ya kak), tapi I wouldn't ask for a better big brother than him.
Selain dari aspek sekolah, kakakku juga banyak mempengaruhiku dari aspek acara TV. Dulu aku bahkan sama sekali nggak tertarik untuk nonton Top Gear, tapi karena "terpaksa" ikutan nonton pas dia nonton, Top Gear jadi salah satu acara TV favoritku. Selain membahas dunia otomotif, pembawa acaranya humoris banget; Jeremy Clarkson si gorila, Kapten Lambat James May, dan Richard Hammond si pendek (relatif terhadap Jeremy, haha). Dan ternyata masing-masing mereka punya acara TV sendiri, favoritku James May's Man Lab. Dari kakakku pulalah aku belajar mendownload segala macam lewat torrent, dan sekarang aku sudah 'mendakwahkan' penggunaan torrent ke beberapa temanku, meskipun speedy mulai mem-blok thepiratebay, sedih :" (tapi untung masih ada proxy).
Sudah ah, intinya aku bersyukur banget punya dia sebagai kakakku. Meskipun di berbagai aspek dia gak bisa dijadikan teladan (haha maap ya kak), tapi I wouldn't ask for a better big brother than him.
Saturday, 15 March 2014
Birmingham
Birmingham, dapat dicapai dengan dua jam kereta dari London ke arah barat laut. Kota multikultural yang begitu apik, di mana satu kepingan masa kecilku tersimpan di sana selamanya. Masa-masa paling bahagia dalam hidupku, so far. Setiap mendengar nama kota itu disebut, aku secara refleks akan menoleh dan mencari sumber suara itu. Bukan tidak mungkin suara itu bermaksud menyebutkan Birmingham, ibukota Alabama, salah satu negara bagian di Amerika Serikat. Tapi itu bukan Birminghamku, karena Birminghamku ada di tanah Albion.
Segala hal yang aku lakukan atau segala benda yang aku miliki yang bercirikan Inggris, merupakan upayaku untuk mengenang kembali masa-masa indah tersebut. Masa di mana hidupku terasa begitu sempurna. Ada Abi, Umi, Kakak, dan Imah yang menemaniku (meskipun keberadaan Hamzah dan Ibad juga merupakan kesempurnaan tersendiri). Masa di mana yang kukhawatirkan hanyalah jariku yang berdarah akibat bermain-main dengan 'kunci' pada kaleng makanan yang berfungsi sebagai pembuka kaleng. Aku ingat sekali saat itu jariku berdarah karena teriris tajamnya tepi kaleng, lalu aku mengadu pada Umi, dan Umi menjawab bahwa semua kesusahan yang kita alami di dunia adalah ujian dari Allah. Dan saat itu aku berpikir bahwa Allah sedang mengujiku dengan membuat jariku terluka.
Masa yang begitu indah di mana kami sering berjalan kaki. Berangkat sekolah diantar Abi, pulang sekolah dijemput Umi. Lalu kami mampir ke perpustakaan kota, dan membaca buku Avocado Baby, juga mampir ke supermarket kecil di samping rel kereta untuk membeli pelembab bibir karena bibir keringku akibat dinginnya cuaca sehari-hari di sana. Makan kebab dan fish and chips dari toko sebelah rumah yang penjualnya orang Pakistan. Rasa kebab di sana beda sama kebab di sini, entah bagaimana. Makan biskuit Star Wars, permen karet dari mesin permen karet koin di dekat rumah, nempel-nempel di heater karena kedinginan, shalat di atas kasur, hahaha.. Rasa-rasanya, bilah disuruh memilih masa-masa paling bahagia dalam hidupku, aku tidak perlu mencari lagi.
Kenangan tentang Birmingham ini cukup membekas dalam diriku. Aku berharap bisa kembali lagi ke sana suatu hari nanti, sekadar mengenang dan menelusuri jejak masa lalu, atau bahkan mungkin membangun keluarga baru di sana. Namun yang pasti, akan selalu ada ruang untuk kota multikultural itu di hatiku.
Segala hal yang aku lakukan atau segala benda yang aku miliki yang bercirikan Inggris, merupakan upayaku untuk mengenang kembali masa-masa indah tersebut. Masa di mana hidupku terasa begitu sempurna. Ada Abi, Umi, Kakak, dan Imah yang menemaniku (meskipun keberadaan Hamzah dan Ibad juga merupakan kesempurnaan tersendiri). Masa di mana yang kukhawatirkan hanyalah jariku yang berdarah akibat bermain-main dengan 'kunci' pada kaleng makanan yang berfungsi sebagai pembuka kaleng. Aku ingat sekali saat itu jariku berdarah karena teriris tajamnya tepi kaleng, lalu aku mengadu pada Umi, dan Umi menjawab bahwa semua kesusahan yang kita alami di dunia adalah ujian dari Allah. Dan saat itu aku berpikir bahwa Allah sedang mengujiku dengan membuat jariku terluka.
Masa yang begitu indah di mana kami sering berjalan kaki. Berangkat sekolah diantar Abi, pulang sekolah dijemput Umi. Lalu kami mampir ke perpustakaan kota, dan membaca buku Avocado Baby, juga mampir ke supermarket kecil di samping rel kereta untuk membeli pelembab bibir karena bibir keringku akibat dinginnya cuaca sehari-hari di sana. Makan kebab dan fish and chips dari toko sebelah rumah yang penjualnya orang Pakistan. Rasa kebab di sana beda sama kebab di sini, entah bagaimana. Makan biskuit Star Wars, permen karet dari mesin permen karet koin di dekat rumah, nempel-nempel di heater karena kedinginan, shalat di atas kasur, hahaha.. Rasa-rasanya, bilah disuruh memilih masa-masa paling bahagia dalam hidupku, aku tidak perlu mencari lagi.
Kenangan tentang Birmingham ini cukup membekas dalam diriku. Aku berharap bisa kembali lagi ke sana suatu hari nanti, sekadar mengenang dan menelusuri jejak masa lalu, atau bahkan mungkin membangun keluarga baru di sana. Namun yang pasti, akan selalu ada ruang untuk kota multikultural itu di hatiku.
Sunday, 5 January 2014
Aku Ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
-Sapardi Djoko Damono
Ini puisi favoritku sepanjang masa :')
Subscribe to:
Posts (Atom)