Sunday, 5 January 2014

Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

-Sapardi Djoko Damono

Ini puisi favoritku sepanjang masa :')

Euforia Akibat Mubes

Beberapa minggu yang lalu, gue mengikuti mubes dari organisasi-organisasi yang gue ikuti di FK, which are MSC, KaLAM, dan BEM. Untuk selain BEM (dan TBMM kayaknya), mubes berfungsi untuk milih ketua baru untuk periode selanjutnya dari organisasi tersebut. Yang berarti bahwa itu adalah masa pemilihan ketua baru MSC dan KaLAM.

Diawali dengan MSC. Hari pertama gak usah diceritain deh ya, soalnya ya itu, mbahas AD/ART (yang bahkan gue telat datengnya, sengaja) sama LPJ. Pas hari kedua ini yang seru, pas pemilihan ketua. Dari 5 calon: Deby, Harris, Chlara, Rendi, dan Dijay, yang maju sampe pemilihan cuma 3, Rendi, Chlara sama Dijay. Karena somehow Deby dan Harris berhasil mengundurkan diri. Singkat cerita, Rendi yang terpilih jadi ketua selanjutnya.

Rendi. Anak kelompok tutorial gue dulu, haha hebat ya. Sebenernya dia gak mau sih, tp akhirnya mau juga. Terus Rabu-Kamis depannya mubes KaLAM. Entah kenapa ini lebih emosional. Benar-benar mengaduk perasaan gue. Padahal awalnya gue udah fiks mau fokus di MSC aja di tahun kedua ini, tapi gegara mubes ini, terkuaklah emosi-emosi yang terpendam dalam diri gue mengenai KaLAM.

Jujur gue merasa kerja gue setahun kepengurusan kemarin di KaLAM bisa dibilang gak maksimal. Entah kenapa, sepertinya gue kemarin sedang semalas-malasnya menjalankan amanah di KaLAM. Setelah gue evaluasi, kemungkinan terbesarnya adalah karena kefuturan gue yang udah kronis. Terus pas mubes kemarin, gue baru ngerasain kalo gue merasa belong di sini. Diantara semua komunitas yang gue temukan di kampus, di KaLAM-lah gue merasa paling at home. Mungkin karena riwayat organisasi gue sebelumnya semuanya adalah organisasi kerohisan, atau simply karena Allah ingin menyampaikan rahmatnya dengan menunjukkan betapa berharganya teman-teman yang selalu berusaha untuk berada di dalam kesalihan. Berupaya bersama dan saling nasihat-menasihati demi menggapai surga bersama-sama. Kita maju bersama Allah menuju masa depan cemerlang (loh?).

Haha, tapi pada akhirnya, dengan berbagai pertimbangan, gue memutuskan untuk fokus di MSC. Meskipun sepertinya gue juga bakal tetep sering main ke sekre KaLAM. Meski gimanapun, rasanya hati gue akan tetap terpaut pada KaLAM.

Kalau di KaLAM kita mensalihkan diri, saat keluar tugas kita mensalihkan ummat. Bismillahi tawakkaltu 'alallah. Semoga keputusan gue bener.

Anyway, KaLAM dan MSC kan selalu bersinergi :P #IyaApa? #UdahMalem #MakinNgelantur #MenghiburDiri

Forga KaLAM 2013

Tim Syiar 2013

Monday, 25 November 2013

Mengenang Guru Kahfi

Bila engkau bercita-cita
Meraih masa depan gemilang
Tempa diri dengan saksama
Kerja keras amat dipentingkan

Bila kesulitan menghadang
Hadapi dengan senyuman
Ibadah dan doa dimantapkan
Hanya Allah tumpuan harapan

Bila sukses telah diraih
Jaga diri tetap rendah hati
Sujudlah untuk mensyukuri
Karena semua nikmat Ilahi

Jangan ujub, jangan sombong, In shaa Allah..

Pok ame ame, belalang kupu-kupu
Siang makan nasi, kalau malam minum susu
Rambate ratahayu tarik tambang,
Di sini makin lama makin senang

Andai aku burung bisa terbang bebas
Dikasih ongkos pun aku takkan pulang

Bangun pagi-pagi menuju masjid Kahfi,
Guna mengikuti tahajjud dan salat Subuh
Di sinilah aku ditempa dan dibina
Oleh ustadz-ustadzah yang baik

Sedikit bernostalgia, gara-gara admin di twitter alumni Al-Kahfi ngetweet banyak tentang guru-guru kita di Al-Kahfi dulu, jadi agak terbawa suasana nih, apalagi mengingat kalau hari ini hari guru. Terus pas saya cek FB, teman saya nge-post bait pertama dari lagu ini, lagu saat kami ospek (PETA--> pekan ta'aruf) SMP dulu. Aah, begitu rindu rasanya akan suasana pesantren dulu. Rasanya seperti berada di taman-taman surga. Baru sadar ternyata guru-guru saya dulu di sana orang-orang salih semua. Saya rindu aura kesalihan itu. Semangat berlomba-lomba untuk berprestasi, dan saat kami merasa lemah, guru-guru kami selalu bisa membakar lagi semangat kami, meskipun hanya dengan nasihat yang singkat. Betapa mulianya seorang guru, mereka merelakan sebagian besar waktu dan tenaganya untuk mendidik kami, murid-murid mereka. Janganlah kita durhakai mereka dengan menjadi manusia tak beradab dan menyalahgunakan ilmu. Berilah hadiah kepada mereka berupa kesuksesan kita, dan buat mereka bangga akan kita dengan menjadikan diri kita manusia paripurna yang Rabbani.

PS. itu dua baris titik-titik, saya lupa dua baris lagu ini, ada yang masih hafal? tolong dishare dong :)
PPS. Selamat Hari Guru Nasional (25 November)!

Sunday, 24 November 2013

A Success Within a Failure

Sebenarnya banyak yang ingin saya tuliskan di sini. Tapi pengalaman mengajarkan, kalau menulis terlalu banyak, ujung-ujungnya gak selesai, masuk draft, dan gak tersentuh lagi, akhirnya gak ter-publish dan cuma jadi bangkai tulisan yang menuh-menuhin draft. Kayak bayi yang keguguran. Udah makrosomia, keguguran pula. Sedih amat.

Saya cuma mau cerita tentang CBT terakhir ini. CBT terakhir saya kemarin adalah CBT terjelek saya sepanjang saya kuliah di sini. Saya sungguh berharap supaya tidak ada lagi nilai CBT yang seperti itu. Cukup sekali ini saja. Tapi yang ingin saya tekankan kali ini bukan tentang nilai saya yang jelek, tapi cerita tentang bagaimana saya menghadapi dan mempersiapkan CBT kemarin.

CBT saya dilaksanakan Jumat, 22 November 2013 pukul 9.00 - 11.00. Sebelum hari itu tiba, dari hari Senin sebenarnya kami sudah tidak ada jadwal kuliah lagi. Seharusnya banyak waktu untuk belajar kan? Seharusnya. Idealnya begitu. Ditambah lagi dua hari sebelumnya adalah Sabtu dan Minggu, jadi tambah banyak waktu belajarnya.

Tapi teman-teman, ternyata tidak sesimpel itu. Somehow, banyak sekali amanah yang harus dikerjakan minggu itu. Ditambah RnR di hari Selasanya. Ditambah ngedit soal yang sampe sekarang pun belum selesai. Singkat kata, belajar saya keteteran.

Sebenarnya kalau mau jujur, waktu-waktu itu seharusnya cukup untuk melakukan semuanya dengan baik. Tapi seperti biasa, saya dihancurkan oleh manajemen waktu saya yang kacau balau. Bila kau gagal merencanakan, berarti kau sedang merencanakan kegagalan. Hal itulah yang tepat saya alami kemarin. Saya benar-benar menyadari sepenuhnya bahwa saya sudah gagal mengatur waktu saya, saya gagal mengefisienkan sedikit waktu yang saya miliki untung segudang amanah tersebut. Dan bahkan, saat waktu ujian tiba, belum semua lecture saya review lagi. Jadilah saya CBT bermodal nekat. Alhasil, nilainya terjun payung.

Tapi saya tidak bermaksud menyalahkan segala kegiatan nonakademik saya. Tentu rasanya ingin menemukan kambing hitam yang bisa disalahkan, tapi kalau saya jujur terhadap diri saya, menyalahkan amanah adalah hal yang tidak adil. Sekarang saya cuma ingin menyampaikan, saya tidak shock mendapat nilai segitu. Saya merasa pantas. Seseorang akan mendapatkan apa yang diusahakannya. Kalau usahanya kecil, mustahil dapat hasil yang besar. Menanam biji cabai tidak akan menumbuhkan pohon durian (?)

Kadang-kadang, saya masih memperlakukan Tuhan dengan seenaknya. Di saat-saat genting menjelang ujian, ibadah saya meningkat sekali. Saking hopeless-nya, dan udah gak ada lagi yang bisa nolong kecuali Allah. Pun di saat kita sudah meminta dan memohon pertolongan, tapi Allah belum kasih, itu bukan berarti Allah tidak menyayangi kita. Justru sekarang saya merasakan kasih sayang Allah yang begitu besar dengan tidak memberikan saya nilai yang baik. Saya merasa Allah ingin mengajarkan saya bahwa saya salah, tidak seperti ini seharusnya seorang pejuang ilmu, bukan seperti ini seharusnya saya mengatur waktu saya, dan kalau saja saya disukseskan pada ujian kemarin, tidak kecil kemungkinannya saya akan meremehkan ujian-ujian berikutnya, dan tidak melakukan perbaikan terhadap manajemen waktu saya. Lalu masa depan saya akan semakin wibbly-wobbly-timey-wimey gara-gara manajemen waktu yang payah.

Selain itu, saya merasakan di saat-saat genting kemarin, di saat saya sedang melakukan pendekatan intensif kepada Allah, di situ saya merasakan kebahagiaan yang akhirnya mengisi kekosongan dalam hidup saya. Saya menemukan kebahagiaan dalam ketaatan. Saya sudah mempersiapkan diri saya untuk kegagalan ini. Jadi ada satu kesuksesan dari kegagalan saya kemarin: saya sukses menyiapkan diri saya menghadapi kegagalan. Dari kedekatan saya yang intens dengan Allah kemarin, Allah menganugerahkan saya ketenangan dalam menghadapi kegagalan ini. Tumben banget lho gue gak shock atau down ngeliat nilai segitu. Pokoknya saya bertekad supaya hal seperti ini tidak terjadi lagi. Saya tidak boleh menyia-nyiakan amanah yang Allah berikan kepada saya untuk menuntut ilmu, juga amanah orang tua saya, nenek saya, dan yang terpenting, amanah ummat untuk menjadi seorang dokter yang baik.

Friday, 5 July 2013

Bayi dan Ketek

Jadi hari ini gue ada skills lab abdominal examination (reschedule dari week 2 nih), nah kita pake ruang cardiovascular di lantai 3 Grha Wiyata. Di dalam ruangan itu, banyak perlengkapan buat latihan BLS, (kayaknya sih emang tempat nyimpennya), dan ada 3 ranjang pemeriksaan. Di beberapa ranjang, ada 2 manekin anak laki-laki yang mungkin versi manusianya berusia 5 tahun, dan sebuah manekin anak bayi.

Entah mengapa, hari ini gue merasa insting keibuan gue sangat tinggi. Pas ngeliat manekin itu, langsung gue gendong dengan penuh kasih sayang layaknya menggendong bayi beneran. Pokoknya gue sayang-sayang banget tuh manekin. Dan setelah menggendong-gendong manekin itu kemana-mana, gue merasa perlu segera punya anak #lho. Kata Paulina sih gue terlihat seperti orang stress, haha tapi gak papalah. Beberapa saat setelah menggendong manekin, dr. Suryadi masuk dan gue taro dulu anak gue itu di ranjang pemeriksaan tadi untuk fokus ke latihan kita kali ini.

Semua berjalan lancar, yang pertama maju jadi dokter si Agung, dan gue fokus memperhatikan perbuatan Agung supaya nanti bisa ngasih feedback, dan gue gak menyentuh si bayi sama sekali. Habis Agung, yang maju Nashir. Nah pas ini, gue mulai nggendong-gendong si bayi lagi, tapi tetep sambil merhatiin kerjaannya Nashir. Dan waktu pun berjalan.

Habis Nashir, gue yang maju jadi dokter. Dengan berat hati kan gue harus naro si bayi di ranjang lagi, akhirnya gue taro. Nah selanjutnya gue fokus ke pemeriksaan. Setelah selesai dan dimulai sesi feedback, gue mulai nggendong-gendong bayi itu lagi. Sambil duduk tetep gue gendong tuh bayi. Sesi berlanjut sampai selesai, tidak ada masalah.

Setelah skills lab, gue, citra, rendi, yufi, nashir, agung, dan nisa duduk-duduk di bangku batu deket lobby RK, sekalian sarapan. Beberapa ngerjain laporan, beberapa ngobrol sambil makan. Ya biasalah, habis itu ngobrol-ngobrol ngerencaian farewell party kelompok kita. Terus, karena kunci motornya Nashir lagi dipinjem Hafiq dan Nashir perlu balik ke rumah, jadinya Nashir pinjem motornya Rendi. D'oh, gue gak tau kenapa jadi cerita gak jelas ginian, lamgsung to the point aja ya.

Pokoknya settingnya itu gak ada Nashir dan Agung, cuma tinggal Rendi and the girls aja. Terus terjadi suatu percakapan (gue lupa detailnya gimana, seinget gue aja ya)

Gue: "aaaah, bayi gue masih di GW!! Astri, jahat banget lo tadi bayi gue lo tempeleng pas lagi gue gendong, huhu."
Astri: "hahaha, tadi tuh bayi dismack down ama Alvin loh, dan diketekin Udin, hahahaha."
Citra: "Iya ya? hahaha tadi kan si Hasna nyium bayinya lho."
Hasna: "Hah? Beneran? Emang kapan diketekinnya?"
Astri: "Pas kamu maju meriksa tuh tadi.."
Hasna: "yang diketekin apanya?"
Astri: "Kepalanya, hahahaha.."
Hasna: " waaaaah siaall, tadi gue nyium goodbye ke kepalanya si bayi uuuuuuuuuuurrrrrrghhhh."


Jadi bisa disimpulkan saya mencium apa? hueks.

Saturday, 4 May 2013

Star Trek

Setelah begitu lama didownload dan ditunda untuk ditonton, akhirnya gue putuskan untuk nonton Star Trek (2009) malem ini. Dan tanggapan gue: Wow.

Mungkin udah beberapa lama gue gak bersentuhan dengan dunia science fiction, tiba-tiba nonton ini, rasanya kayak nostalgia masa lalu. Rencananya sih gue pengen namatin dulu novelnya, tapi apa daya, suka gak ada waktu, dan Star Trek Into Darkness udah mau premier di sini tanggal 15 Mei nanti. Walaupun gue berencana untuk nonton itu nanti tanggal 1 Juni, gue ngerasa gak bakal sempet buat namatin novelnya sampe tanggal segitu. Dari pada gue gak ngerti jalan ceritanya, jadi gue putuskan untuk nonton aja filmnya sekarang, novelnya bisa menyusul :p

Dan hey, keren sekali film itu. Banyak cerita dan hikmah (?) yang bisa kita ambil dari film itu. Bagaimana menjadi kapten yang baik, bagaimana menentukan prioritas, mengontrol emosi, dan lain-lain. Ngena banget pas ibunya James T. Kirk melahirkan di dalam space shuttle, sementara suaminya mengorbankan dirinya untuk mati di dalam U.S.S. Kelvin yang diserang sama Nero, demi menyelamatkan 800 awak kapal beserta istri dan anaknya yang masih dalam kandungan. Terus tentang Spock yang gak bisa mengontrol emosinya setelah dia gagal menyelamatkan nyawa ibu dan planetnya, Planet Vulcan, sampai kontrol kapal harus diambil alih sama Kirk. Dan masih banyak yang lainnya.



Oya, sebelum nonton ini juga gue sempet catch up nonton episode 18-19 The Big Bang Theory season 6, streaming online, hahaha...

Gue jadi inget, dulu di Stargate SG-1 nama speciesnya kayaknya banyak yang sama kayak di Star Trek ini: Romulan dll. Apakah pop culture ini punya akar yang sama? Sepertinya menarik untuk dibahas. Dan saya juga jadi pengen belajar Bahasa Klingon.

Di Star Trek Into Darkness yang akan segera tayang, ada Benedict Cumberbatch-nya lhooooooo kyaaaaa *fangirling mode: on* dia jadi main villain-nya: John Harrison. Benedict, Zachary, and Chris in one movie? kyaaaa kyaaaa kyaaaa can't waiiit :3



H-6 tentamen blok 1.5, mohon doanya.

H-11 premier Star Trek Into Darkness di Indonesia

H-66 Ramadlan 1434 H, ya Allah, sampaikanlah kami pada bulan Ramadlan, aamiin..

Friday, 29 March 2013

Rendi's Angels

Haha, mungkin lo berpikir, "Apa banget deh tuh judul?!" Soalnya gue juga mikir gitu. Jadi kan di kelompok tutorial gue anak cowoknya ada 5 dan anak ceweknya juga 5, tapi Rendi seringnya kalo main sama kita anak-anak cewek. Dulu gue nyebutnya Rendi and the Girls, tapi atas saran siapaa gitu gue lupa, akhirnya jadi Rendi's Angels (kayak Charlie's Angels) hahaha setelah dipikir-pikir ternyata kocak juga :P

Ternyata cuma ini foto Rendi's Angels hahaha