Friday, 29 March 2013

Lima Belas Maret 2013

Hei, gue udah lama gak nulis nih, jadi sori dori mori kalo tulisan gue bakal panjang banget, haha..

Jadi ceritanya, tanggal 15 Maret 2013 kemarin, ada salah satu anak kelompok tutorial gue yang ulang tahun. Entah sejak kapan, (kayaknya sejak awal deh) di kelompok gue jadi mentradisi gitu, kalo ada yang ulang tahun kita kasih kue surprise terus makan bareng-bareng. Nah, karena yang berulang tahun kali ini orangnya 'agak spesial' (baca: ngeselin tingkat dewa), jadinya kita juga bikin sesuatu yang agak spesial buat dia: merias motor!

Rencana awalnya sih kita bakal bikin motornya jadi sealay mungkin dengan dekorasi yang gak bisa dicopot lagi biar dia terpaksa pulang dengan motor alay itu. Semuanya udah kita bicarakan beberapa hari sebelumnya, gue yang dapet ide merias motor karena gue dapet inspirasi dari Fiya yang ngajakin ngerias motor Sinta di hari ultahnya juga, hehe.. Karena yang lain gak punya ide yang lebih rasional (idenya Nisa: "kita bawa ke RP lantai 6 terus bilang, 'Selamat ulang tahun ya Shir.' terus kita dorong deh keluar jendela"), akhirnya ide gue diterima, dan entah mengapa gue jai antusias banget gitu. Gimana mekanisme pelaksanaannya? Simak ceritanya..

Jumat itu, awalnya kita ada jadwal praktikum biokimia jam 9-11 (lab biokim ada di RP lantai 6), terus dilanjutkan praktikum farmakologi jam 1. Seharusnya. Tapi ternyata ada reschedule farmako, jadi siang itu kita gak ada praktikum farmakologi, which means jam 11 jadwal kita udah selesai hari itu. Karena kita takut sang target akan segera capcus pulang setelah praktikum, kita berencana mindahin motornya dulu. Dengan beberapa kali upaya, akhirnya kita berhasil mengamankan kunci motornya, *evil laugh*, dan setelah praktikum usai, gue, Nisa, sama Rendi langsung lari keluar lab biokim menuju lift untuk cepet-cepet mindahin motor sang target. Bahkan belum sempet lepas jas lab, gue lepas sama ngelipet jas lab di dalam lift. Saat pintu lift terbuka dan kita udah sampai di lantai 1, kita langsung lari ke parkiran belakang lab anatomi. Gue sama Nisa standby di sana dan rendi ngambil motornya.

Saat itu bahkan belum genap jam 11, gue gak tau anak-anak yang lain pada ke mana, yang jelas siang itu oanas (apa hubungannya?). Gak lama, Rendi dateng dengan membawa motor sang target. Kita langsung cus ngedekor, semua peralatan dekorasi gue yang bawa: kertas crepe yang udah digunting, plang alay bertuliskan "Just Married" yg ada bunga mawarnya, balon, lem, selotip, gunting, dll (kecuali lidi, Yufi yang bawa lidi). Oke, jadi kita mulai merias motornya. Nempelin kertas Crêpe  niup balon, pasang plang, dan lain-lain. Sampai saat itu belum ada tanda-tanda kehadiran yang lain, dan kita lanjut terus merias, sampe sekitar setengah 12, dan udah mau masuk waktu salat Jumat. Si Rendi mau salat di Mardliyyah, katanya dia gak mau ketemu target (?) jadi dia cus ke Mardliyyah. Eeeeh, beberapa saat setelah Rendi pergi, di tengah-tengah saat gue sama Nisa lagi niup balon, si target dateng sambil nggerak-gerakin telunjuknya kayak nunjuk anak nakal sambil nyengir dan ngomong, "gue udah tauuu..."
-______________________-

Sial. Lo gak tau segondok apa rasanya gue. Gue lagi tiup balon coy. Awkward banget scenery itu. Terus dia nyamperin kita, dan karena dia gak punya kunci motornya (kunci motornya masih dibawa Rendi), dia pergi lagi untuk salat Jumat. Gue sama Nisa langsung lemes.

"Yah, gimana nih Nis?"
"Gak tau na..."
"Yaudah lah ya, lanjutin aja yuk."
"Iya deh.."

Kira-kira begitu percakapan desperate kita. Bukan, bukan desperate, tapi failure conversation.
Oh ya, gue baru inget, saat itu Yufi lagi ngambil kuenya yang dititipin di Masjid Ibnu Sina, kalo gak salah Paulina ada acara atau rapat sebentar gitu, Citra gak tau, Agung pulang, Nanda gak tau, dan Alvin ada presentasi CIMSA, jadi dia emang gak bisa ikut dari awal. Fail lah hari itu. Tapi gue sama Nisa tetap istiqomah (?) merias motor target, Yufi juga ikutan. Semuanya udah gemes banget sama target, dengan kejengkela yang membara, kita terus merias motornya berharap bisa jadi motor teralay sedunia. Begini kira-kira jadinya.




Plangnya gue yang bikin lhooo (so what banget ya)

Well, I know itu gak bagus-bagus banget, dan gak sealay yang kita inginkan. Tapi kita tuh udah mutung, gak tau mesti diapain lagi tuh motor. Dan sebenernya, sebelumnya kita udah kecurian start sama Hafiq sama Fian, mereka nemperlin helmnya dengan stiker princess dan Dora, terus sampahnya ditaro di dalem helmnya, dan nullis 'HBD NASHIR' di plat belakang pake tip-Ex. Gue jadi merasa kalah, haha. Oya, kita juga nempel balon alay bentuk kayak sperma di helmnya lho, hahaha...

Rendi mengenakan helm alay
Citra di samping motor alay, mengenakan helm alay
Siang-siang panas-panas, kita belum makan, jadinya kita makan dulu deh (cuma gue, Nisa, Paulina, Citra) karena waktu itu Rendi kayaknya masih soljum dan Yufi ada tes AAI. Pas lagi makan, ada SMS masuk, ternyata dari target, "Rencana kalian gagal, hahahaha." Cih, resek banget. Gue bales aja, "Heh, bukannnya solat malah SMS-an." Pokoknya setelah itu, semua rasanya suram. Padahal, padahal...

Padahal kemarinnya gue berapi-api banget menyongsong hari ini. Seharusnya hari ini seru dan menyenangkan dan ditutup dengan makan kue bersama (kenapa pikiran gue makanan melulu?), tapi Allah menkdirkan lain. Kemarinnya, gue sama Yufi belanja semua supply untuk hari ini, dari dekorasi sampai kue. Kuenya kece lagi.  Kan mbaknya nawarin, kuenya mau ada tulisannya gak, terus gue bilang, mau. Terus gue diskusi dulu sama Yufi mau nulis apa.

"Tulis apa ya yuf?"
"Hmm, apa ya?"
"Feliz Cumpleaños?"
"Ah, jangan bagus-bagus. Nih, belakangan ini kan dia ngomong 'Alright' melulu, kita tulis itu aja."
"Oh iya, hahahahaha kocak banget itu, yaudah kita tulis 'Nashir, alright!!' aja ya?"
"Yaudah has.."

Hahaha, sebenernya ketawa gue lebih panjang dari itu. Itu ide yang sangat cemerlang dari Yufi, gue makin bahagia dan gak sabar menyongsong esok hari, sampe di perjalanan pulang juga gue masih cekikikan ampe Yufi heran (emang gak selucu itu ya?).

Yaudah, habis makan kita ngegabut gak jelas gitu. Pokoknya akhirnya Rendi's Angels udah kumpul dan kita bingung mau ngapain. Udah mau jam 2 dan gak ada tanda-tanda si target bakal dateng. Kata Hafiq si target udah pulang. Heemmmmh tambah bete lah kita. Di tengah-tengah kekesalan dan kue yang ternyata pas diperiksa udah agak hancur sampai tulisannya gak kebaca lagi, akhirnya kita coba hubungi Nanda. Gue SMS, "Nanda, kamu di mana?"
"Makan. Kalian dmn?"
"Makan dmn? Aku sama yufi di Ibsin. Kamu sama syp aja? Nashir dmn?"
"Kayaknya Nashir di rumahnya. Makan di bu siti. Gmn?"
"Nan, balik ke sini nan, hibur kami, kasihani kami ;;;;;_____;;;;;"
"Sebentar."
(jadi bagian awal SMS itu pas gue sama yufi lagi di ibsin, terus kita jalan ke IKM ketemu yang lainnya, dan SMS terakhir itu adalah permintaan teman-teman, hahaha).
Sekitar 15-20 menit kemudian, Nanda dateng dan kita ngadu ke Nanda kayak anak kecil ngadu ke bapaknya, hahaha... Habis itu kita capek dan memutuskan untuk pulang. Kue, kunci motor, sama satu topeng happy birthday (topengnya ada 10, rencana awal kita semua pake topeng itu untuk makan kue) kita titipin Nanda untuk dikasih ke target, biar dia pesta sendirian. Haha, sedih banget ya kita kesannya.

Gue baru inget ternyata gue masih harus nyampein poster dan surat undangan BEM ke fakultas pertanian, dan gue gak berani jalan sendirian, akhirnya gue ditemenin sama Paulina sama Rendi, naik sepeda kampus, sekalian refreshing. Yang lain pulang, kita bertiga cus ke FKG untuk pinjem sepeda, habis itu langsung jalan ke pertanian, dan habis itu kita berencana untuk jalan-jalan muterin kampus. Setelah dari sana, kita menyusuri daerah fakultas pertanian dan nemu jembatan yang langsung ke fakultas peternakan, ternyata ini jebatan gue lewatin hampir setiap hari pulang kuliah, dan kita sempet foto di sana.

Gue (minjem sepeda Rendi utk foto:p) dan Paulina

Rendi dan Paulina

Habis itu kita main ke lembah, yang turunan itu, abis gue penasaran ada apa di bawah sana, ternyata kayak sports center gitu. Nah nah, ada suatu kejadian yang agak memalukan di sini. Jadi pas udah nyampe sports centernya, gue kira itu jalan buntu, jadi gue rencana mau muter balik U-turn gitu, eh karena tanahnya berpasir (alesan!) kaki gue jadi licin dan gue jatoh -___-, pass banget Rendi sama Paulina ada di belakang gue, jadi deh gue diketawain ;_;

Tapi so what banget lah yaa, haha gue juga ketawa dan langsung cus dari sana, malu (._.) Tangan gue berdarah dikit, tapi untung gue bawa hansaplast :3

Habis itu kita haus dan mampir ke food court di belakang gelanggang mahasiswa untuk beli sup buah. Gak tahan godaan, Rendi sama Paulina beli bakso, jadi kita makan minum and ngobrol setelah sepedaan. Lumayanlah, refreshing after an exhausting day :D

Habis itu kita pulang deeeeeeeeh, hahaha...

Dan malemnya......
Jadi gue lagi chatting sama Alvin menceritakan kejadian hari ini, saat tepat pukul 00:00, ada yang ngetok-ngetok kamar gue, Ira udah tidur. Gue pikir, kalo satpam mesti ngomong dong ya. Tapi ini nggak, ngetok-ngetok aja terus, pas gue tanya, "siapa ya?" gak ada jawaban gitu. Merinding banget gue, soalnya dulu Ira pernah cerita kalo di sini emang malem-malem suka ada yang ngetok-ngetok. Duh, panik gue. Makin lama makin kenceng ngetok-ngetoknya. Gak mungkin gue buka pintunya, akhirnya gue bangunin Ira. Dia juga takut, dan teriak lewat jendela ke luar, "Satpaaamm!!!". Seketika itu juga ketokan di pintu makin kenceng dan rusuh, ternyataaa itu Dede sama temennya, Ira ulang tahun!! :D

Apparently rencana Dede gagal, karena niat mereka adalah nakut-nakutin Ira, eh malah gue yang hampir jantungan ;_; tapi gak segagal rencana gue ya, hahaha...

Friday, 15 February 2013

A Little Ramble on Sleep and Memory

So, hello there. First of all I might want to tell you that I'm currently on holiday, and a quite long one (3 weeks, wow!) so I'm at my home sweet home now :)

Actually, before this holiday, I've tried to make a list of what I'm going to do on this holiday, although it was just inside my head (which is ineffective, just write it away!), but honestly I can't get all the things done up until now. Just as I remember, one of it was to do a little research on sleep and its effect on memory consolidation. And why am I doing this? Well, actually it all goes back to the fact that I wasn't doing very well at school now, or at least not as well as hoped it would be, and the other fact that I often don't get enough sleep. And then I remembered that I had read about this thing somewhere, sometimes ago, that sleep deprivation does affect your memory, in a way that it would make it worse or make you harder to remember things, and that sleeping does play a significant role in consolidating our memory. Since studying medicine means that I have to remember so many things in so little time, a good memory is almost a must. The sad thing is I don't. Somehow I'm feeling that my brain's capability in remembering things is getting worse and worse every other day, and I'm starting to get suspicious on my lack  of sleep being the main cause of what's happening to me.

As I am not very experienced in conducting any kind of research, I kinda don't know what exactly to do. My plan was to create something, maybe a list of things or some kind of new knowledge, for me to memorize during two different condition; the first one is that I get to sleep after memorizing the material, and the second one is that I don't get to sleep DIRECTLY after I memorize the material. So you may say that this experiment is conducted not in the night but rather in the daylight, perhaps in the morning or afternoon. And after that, probably a couple of hours or the next day after I memorize the material, I compare the result, and then I should know whether sleep does affect memory. I know, in may ways, this experiment is very inaccurate, like, I don't have a control variable, the time is too short for this experiment to actually give any expected result (meh, what result am I expecting anyway?)

All in all, I started my experiment by doing some literature research on Google about this topic. And then I stumbled upon some paper that are related to this, but I only read one of it, out of laziness, and you can check it out yourself here (anyway, it's a PDF document). Some part of the paper was too complicated for me to understand, so the point I actually get from reading it is that REM sleep is the type of sleep that have the most significant role in consolidating memory, but the type of memory being consolidated remains unclear. May have missed some important points though, you may need to actually read the paper to get the whole point.

After I read the paper I became very sceptical about continuing on this experiment. So yeah you can guess that I didn't actually do it. Honestly, I do love to sleep. Sleep is good. But sometimes we can get too deeply involved in the things that we are doing, and then we check the time and it turned out to be very very late, and in the morning we already have things to do, and so it causes the lack of sleep. Or rather, a good night sleep. It is indeed another fun fact that a night sleep is so important that a daytime sleep or nap cannot ever replace it, or so I heard. And the irony is, I am doing it this very minute. So I think I better finish off this ramble and go to sleep. For real.

PS. I still have books I planned to finish on reading this holiday, but somehow the ambience in my home makes me feel so lazy to grab and read a book. So let's see, it's only about 10 days left of holiday, will I ever make it till the last chapter?

Saturday, 2 February 2013

A Story from Pharmacology Lab. and others

Minggu lalu, tepatnya tgl 15 Januari 2013,  adalah pertama kalinya kita praktikum Farmakologi, di lab farmako lah ya (masa di lab anat? nyuntik cadaver dong? :p). Bagi yang belum tau apa itu farmakologi, pokoknya itu ilmu yg berkutat dengan dunia obat-obatan. Gak tanggung-tanggung, baru sesi pertama praktikum kita udah nyuntik lho. Bayangkan, pake jarum suntik! Syringe! Needle! Hahaha, dan itu adalah pengalaman pertama gue menjadi pengguna jarum suntik.

Jadi sesi pertama itu, praktikum kita tentang pengaruh cara pemberian obat dengan onset dan durasi dari efek obat itu. Objek praktikum kita adalah tikus Wistar, itu lho yang putih-putih kayak Stuart Little. Kita kerja dengan 4 tikus, jadi gue namain deh tikus-tikus di kelompok gue: Stuart 1, Stuart 2, Stuart 3, dan Stuart 4. Nah cara masukin obatnya (kita lagi nguji diazepam, obat tidur) ada 4 juga lah: oral, subcutan, intramuscular, dan intravena. Kalo yang oral itu lewat mulut biasa kayak kita minum obat, cuma bedanya ini kita paksa masukin ke mulut tikusnya pake alat semacam suntikan, tapi ujungnya bukan jarum lho, ya pokoknya biar bisa masuk ke dalem mulut si tikus. Sedangkan 3 cara lainnya itu dengan injeksi, subcutan berarti injeksi di bawah lapisan kulit, intramuskular langsung ke otot, dan intravena ke vena (jelas banget kan ya dari namanya). Pada sesi ini, gue berkesempatan untuk melakukan injeksi subcutan. Gue udah ngincer dari awal pokoknya gue mau nyuntik, ahahay :D

Punya gue sih kayaknya emang yang paling gampang, cuma nyubit sedikit kulit si tikus terus suntik deh. Oh ya, Stuart 1 diinjeksi intramuskular sama Rendi, kalo stuart-stuart lainnya gue lupa sama siapa. Mungkin Alvin, atau Nanda, atau Nashir, atau Agung. Kayaknya bukan anak cewek, pada jijik soalnya. Iyalah, masa pas injeksi intravena aja tikusnya sambil defekasi coba, iyuuuh.. Jadi yaa...memang menjijikkan, basah kencing juga hahaha.. Dan hasilnya, people, alhamdulillah tidak mengecewakan. Punya gue yang berhasil pertama onset sedasi (walaupun sepertinya harusnya gue bersedih karena secara teori, harusnya injeksi intravena yang onset duluan), dan rasanya itu lhooooo, wuaaah, seperti kredibilitas gue sebagai dokter udah teruji! hahaha padahal cuma baru nyuntik tikus doang pake obat tidur, tapi ya gak papalah, sebagai permulaan.. ok lanjut,, hmm pokoknya setelah itu kita mengamati terus perubahan tingkah laku para Stuart, sampai harus mengamati saat mereka tidur, dan repotnya, mereka itu tidurnya gak kethok tidur kayak kita yang menutup kelopak mata, tapi cuma diam tak bergerak dan gak ngerespon sama stimulus yang kita berikan (kayak disodok-sodok atau diangkat-angkat tetep diem aja). Tapi pada akhirnya selesai juga kok laporannya (?) Yang harus diwaspadai saat praktikum dengan tikus malah Nashir, pokoknya kalo dia udah bertindak mencurigakan dan mendekat tanpa alasan, periksa kantong jas lab anda, barangkali anda akan temukan sesosok tikus putih di sana, a.k.a. doi berniat masukin tikus ke kantong gue, untung gue sadar
-_____-

Hmm, itu baru pas sesi I ya, jadi ceritanya di blok 1.3 ini kita ada 2 sesi praktikum farmakologi, nah sebenernya sih yang mau gue ceritain itu yang sesi 2 ini. Lagi, kita bereksperimen dengan tikus-tikus putih. Kali ini, percobaan kita untuk melihat hubungan antara dosis obat yang diberikan sama efek yang terjadi pada tikus. Kalo di buku Color Atlas of Pharmacology-nya Lulmann, contoh kasusnya itu beberapa tikus dikasih Morphine (tau kan, yang suka dipake narkoba, memberikan efek excited), dan gue udah excited sendiri, kirain kita bakal main-main pake Morphine (obat ini efeknya bikin ekor tikus berdiri, kan kece tuh). Eh taunya, obat yang kita mau uji itu Neostigmine, semacam penstimulus saliva (air liur) gitu (merupakan jenis obat inhibitor asetilkolin esterase, CMIIW :p), dengan cara menimbang berat saliva yang dihasilkan si tikus sebelum dan setelah dikasih Neostigmine itu, biar keliatan, dengan dosis Neostigmine sekian, jumlah saliva yang dihasilkan sekian.

Nah kan kita ngukur jumlah salivanya itu dalam satuan berat, jadi ada kayak semacam spons kecil yang kita masukin ke bagian bawah lidahnya si tikus sebelum pemberian obat, terus timbang. Tunggu 10 menit, masukin spons baru ke bagian bawah lidah dan timbang lagi. Dengan begitu kita bisa tahu berapa jumlah saliva yang dihasilkan karena efek obat ini. Yasudah lah ya, pokoknya gitu. Kalo mau tau lebih lanjut mengenai prosedur de el el, nih saya pinjamin buku blok 1.3. Jadi, pas udah mendekati momen-meomen terakhir, di tikus terakhir yang kita mau timbang salivanya itu, foamnya gak bisa diambil soalnya tikusnya udah bangun dan maunya nutup mulut (ohiya, jadi sebelum disuntik Neostigmine, tikus-tikus kita ini dibius dulu). Kalo gak salah yang lagi megangin tikusnya itu Alvin apa Agung gitu gue lupa, dan yang mau ngebuka mulut tikusnya itu Nanda. Bukanya pake sebuah alat yang mirip pinset gitu tapi lebih besar dan namanya bukan pinset, gue lupa apa. Saat tikusnya bangun dan foamnya masih di dalem, kita panik semua, jadi kayak situasi emergency gitu. "Eh gimana itu?? Foamnya ketelen tikusnya!!!" gue lupa siapa yang ngomong gitu, atau jangan-jangan malah gue? Dalam keadaan panik gitu, Nanda gemeteran banget, udah masukin alatnya dalem-dalem ke mulut tikusnya untuk nahan giginya dan ngambil foamnya, tapi usaha gagal, karena gemeternya itu pake banget. Akhirnya diambil alih sama Nashir, dia lebih tenang dan akhirnya foam bisa terambil, situasi emergency teratasi. Kok kalo dibaca lagi, cerita gue ini gak jelas banget ya? Hah, seandainya gue bisa menuliskan situasi saat itu, mesti seru. Suasana gawat daruratnya itu lho, terasa banget, hahaha..

Setelah dua kali melakukan percobaan dengan tikus, gue jadi kepikiran, tikus-tikus bekas percobaan itu nasibnya gimana ya? Apa mereka bakal dipake buat percobaan lagi? Kayaknya sih nggak ya. Lalu pada suatu saat, ada anak tutorial gue, gue lupa siapa, yang bilang kalo mereka akan dibakar, atau dianalgesi (dibius) sampe mati. Hemmmmm, setelah mendengar itu (tanpa tau fakta sebenarnya yang terjadi) gue jadi merasa gak enak dan berutang budi sama tikus-tikus itu. Gue jadi inget eksperimen otot waktu SMA dulu, pake kodok, dan karena kodok gue agresif gak mau diem, otaknya (pokoknya di bagian kepalanya) dilumpuhkan sama guru biologi gue dengan cara ditusuk-tusuk pake jarum. Eh bener kodoknya langsung lemes. Sebenernya gak tega gue, ampe kebayang-bayang dan kebawa mimpi, inget banget gue. Beberapa hari yang lalu gue ngobrol sama Rabikah and just found out about her concerns about animal abuse. Yah walau ini gak bisa dikata animal abuse, tetep aja rasanya gak enak kan (apa cuma gue doang?), dan doi kaget waktu gue bilang tentang pembakaran dan anestesi itu. Dia berencana untuk mengklarifikasi hal ini ke lab farmako (kapan, Bik? gue ikut dong, ajak-ajak yaw). Semoga saja tikus-tikus itu baik-baik saja dan gak mengalami rasa sakit yang berarti pun ketika mereka harus mati. Sekian.


Friday, 2 November 2012

Dressing and Bandaging

Beberapa minggu lalu, gue dapet materi Skills Lab (lab keterampilan dasar klinis gitu) tentang dressing and bandaging. Dressing luka lho ya, bukan salad. Apa itu dressing and bandaging? Intinya sih dressing itu ngebersihin luka untuk menghindarkan dari infeksi, bla..bla.. dan bandaging itu membalut luka salah satu tujuannya untuk membatasi range of movement, misalnya pada orang yang patah tulang, supaya gak makin parah lukanya. Jadi inget, waktu itu dokter Adrian cerita tentang kecelakaan motor, dan korbannya langsung dipindahin begitu aja, padahal harusnya gak gitu, harus di-imobillisasi dulu supaya kalo ada trauma gak makin parah. Tapi ya itu, masyarakat kita masih kurang berpengetahuan tentang hal-hal darurat seperti ini. Niatnya sih mau nolong, tapi kalo malah tambah parah gimana? (aduh jadi out of topic banget ini). Back to topic, salah satu cara imobilisasi ya dengan melakukan bandaging itu, hahaha (apasih gak jelas banget).

Skills lab dressing bandaging kita sebenernya jadwalnya bukan hari itu, itu udah hasil reschedule. Biasa deh, hampir semua skills lab selalu direschedule, ckckck. Enak kalo mau ada praktikum, tapi kalo nggak kan ya  mendingan langsung biar gak ribet lagi atur jadwal. Tapi ya sudahlah. Jadi akhirnya kita mulai skills lab hari itu siang-siang, jam 1 kalo gak salah. Biasanya skills lab itu 2 jam, jadi kalo berjalan sesuai jadwal harusnya selesai jam 3. Tapi karena keasyikan, kita masih di sana sampe lewat ashar, sekitar jam 4 (lama banget gak tuh?)

Intinya gue cuma mau nge-share foto-foto aja sih, abisan lucu-lucu abis dibandage, check it out guys :D


Rata-rata korban praktik dressing and bandaging adalah anak cowoknya, here they are
left-right: Alvin, Nanda, Nashir, Rendi

Anak kecil

Fashion disaster banget, vin, hahaha xD

Duh. Kalian harus liat Nashir pura-pura jadi pengemis dengan bandaging kayak gini. Ngakak pol :D

EH, ini dari skills lab yang dulu, haha numpang pasang ya, abis gue suka foto ini :P

Ini juga fotonya bagus, auranya ceria :D (wajah-wajah ceria saat belum kenal tentamen :p)

Haha, that's it, see you anytime soon :D

Love,
Hasna
xoxo

Dikira Teladan

Halo haloo :D

Ehem, oke. Apa-apaan sih tuh judul? Pada ngira gue anak teladan ya? Hahaha, bukan itu maksudnya. Tapi, beberapa minggu yang lalu, setelah lecture (yang saat itu gue lagi duduk sama Zahrin), Deby yang duduk di belakang kita nanya,

"Has, kamu anak Teladan juga?"

Gue terkesima. Hah? Ada yang ngira gue lulusan Teladan (SMAN 1 Teladan Yogyakarta)? Hahaha. Terus gue bilang (seinget gue aja ya, udah lama soalnya, gue lupa gue bilang apa),

"Hahaha, keliatannya? Kok lu bisa ngira gue anak Teladan?"

"Abis kamu main sama Zahrin terus, dan keliatannya udah deket banget. Eh, bukan ya? Bukan deng, kamu bukan anak Teladan, ngomongnya aja pake gue-elo."

JGERR. Padahal udah bagus-bagus dikira Teladan, hancur semua gara-gara bahasa gue yang masih gue-elo-gue-elo-an sehari-hari, capek deh. Habis gimana ya, sampe sekarang juga gue masih belum bisa ngubah tata bahasa gue untuk menyamai orang-orang di sekitar gue. Oke kadang-kadang gue ngomong pake aku-kamu, tapi most of the time, kebiasaan gue-elo gue masih terus ada. Gue kurang tau juga, apakah di sini "gue-elo" itu dianggap kasar atau nggak, tapi ada temen gue juga yang dari Jakarta waktu itu kaget liat gue ngomong pake "gue-elo" sama temen-temen lain yang bukan anak Jakarta. Dia bilang ke gue kalo dia cuma ngomong pake gue-elo ke sesama anak Jakarta. Terus gue mikir deh, "emang ngomong gue-elo di sini tabu ya?", dan gue pernah nanya itu ke Yufi dan Rendi, kata mereka nggak kok, cuma gak biasa aja.

Hmm, mungkin cuma dianggap asing karena itu termasuk budaya Betawi, dan lingkungan gue sekarang adalah lingkungan berbudaya Jawa yang kental (iyalah, Jogja gitu lho!). Gue rada gak enak juga sih, kesannya sombong banget gak mau make adat setempat, keukeuh pake budaya sendiri padahal lagi di rumah orang. Dulu waktu masih awal-awal masuk, hampir setiap gue ngomong (pake "gue-elo") sama Nanda, pasti dia langsung ngomongnya pake "gue-elo" juga, tapi kayak dimedokin gitu, beberapa orang sampe ketawa, tapi menurut gue biasa aja ah, gak ada yang aneh. Sampe sekarang gue kadang masih gak enak, tapi juga belum bisa berubah. Atau mungkin belum mau, soalnya gue udah nyaman banget pake "gue-elo", dan mungkin untuk mengembalikan memori gue selama masih di Jakarta (yak, kena homesick juga gue). Mungkin suatu hari nanti gue akan secara tidak sadar sudah fasih menggunakan "aku-kamu" atau mungkin Bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari. I wonder when the day will come..

Padahal kalo gue mau menyusup dan berpura-pura jadi anak Teladan bisa aja lho, asal ada niat untuk mengubah tata bahasa, karena gue udah banyak bergaul sama anak Teladan, hampir semua lingkaran teman terdekat gue di sini jebolan Teladan. Entah ada apa dengan Teladan, gue suka aja sama sekolah itu. Apalagi dengan nuansa Islaminya, terlepas dari statusnya sebagai sekolah negeri. Mungkin nanti anak gue bakal gue sekolahin di sana (kalo gue gak tinggal di Inggris, which is very likely to happen in the future :> )
Tapi mau ngapain juga ya gue nyusup dan berpura-pura jadi anak Teladan? Hahahaha (hayo mau ngapaaiiin? [evilsmirk]).

Oke, sekarang waktunya bikin essay untuk Masa Orientasi BEM besok, wish me luck :)

Wednesday, 31 October 2012

Friends and Loneliness

"Alone protects me."
"No, friends protect people."

Dr. Watson and Sherlock Holmes, from Sherlock BBC TV Show

Ada hal yang lucu dari hari ini. Jadwal gue hari ini cuma lecture 1 jam, sudah itu kosong. Dari asrama, gue berangkat kuliah seperti biasa, dengan menggowes sepeda (kali ini dengan kecepatan lumayan tinggi karena sudah hampir telat). Gue langsung parkir di tempat langgananku, depan gedung Radiopoetro (RP), dan berjalan cepat ke gedung RK (Ruang Kuliah dan Auditorium). Sesampainya di RK, gue tidak melihat satu orang pun mahasiswa tahun pertama. Dalam hati gue berpikir, "ya ampun, setelat itu apa gue? Udah sepi gini, berani masuk gak ya?". Gue periksa jam di HP ku, 10:05. Baru telat 5 menit, tumben-tumbenan semuanya tepat waktu. Sejenak gue panik karena terlambat, dan gak tau lecturenya di lantai berapa (gedung RK ada 5 lantai). Jadi gue putuskan untuk setidaknya absen dulu. Karena gue sudah di lantai 2, gue langsung ke mesin fingerprint. Gue tempel jari di sensornya, tidak ada reaksi. Mesinnya mati. Gue turun lagi  ke lantai 1 dan mencoba absen di mesin fingerprint auditorium. Mesinnya mati juga. Mati, pikirku.

Semuanya terasa mencurigakan, mesin fingerprint mati, dan gak ada temanku sama sekali. Di tengah kebingungan itu, gue mengirim SMS ke semua teman tutorial, menanyakan lecture di lantai berapa. Yang pertama kali balas adalah Rendi.

"Eh ternyata jam 9-10, bukan jam 10-11.. Gw juga baru tau and gue emang gak jadi berangkat."

"Whaaaaaat? Kata siapa? Demi apa loooooooo?"

Nyessss. Antara BT dan lega, tapi akhirnya gue ketawa. Dalam mengekspresikan perasaan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata, biasanya gue ketawa. Seperti waktu nonton Woman in Black kemarin. Hahahaha.. BT karena gue udah buru-buru, belum beresin setrikaan, ngos-ngosan jalan ke RK, ternyata lecture udah selesai. Lega karena gue gak harus mempermalukan diri gue dengan berjalan di tengah-tengah ruangan lecture yang sedang berlangsung (gara-gara yang punya pintu belakang auditorium doang, ruang kuliah lain gak ada pintu belakangnya). Terus gue iseng-iseng naik lagi. cuma untuk memastikan kalo gue emang bener-bener ketinggalan. Di tangga lantai 4 menuju lantai 5, gue ketemu Aldo, dan gue tanya, 

"Do, emang lecturenya udah selesai?" 

"Iya udah."

Hmm, yasudahlah. Seenggaknya gue udah berniat untuk dateng (semoga dicatet pahala, amiiiin). Jam menunjukkan pukul 10:11, dan gue males banget kalo langsung balik ke asrama, jadi gue ke Ibsin aja, soalnya karena tadi buru-buru, gue gak sempet solat Dhuha. Saat berjalan menuju Ibsin, gue ketemu Reyhan dan Amgah, yang walau pun adalah mahasiswa tahun pertama, gak segrup sama gue. Duh, anak-anak grup CDE mana siiiih? Di sana gue merasa kesepian banget. Gue merasa terasing karena gak ada teman-teman sepermainan gue. Hari ini gue dateng ke kampus, dan gak ketemu temen-temen gue. Rasanya, sumpah gak enak banget. Rasanya kesepian banget (duh, gue udah bilang ya?)

Gue jadi inget, dulu gue pernah ngobrol sama temen gue lewat Whatsapp, dia dari Bekasi, dan gue nanya kenapa dia gak daftar FKUI aja yang lebih deket ke rumahnya dari pada UGM. Terus dia bilang, dia phobia sepi. Entah itu dibuat-buat, atau emang ada (mungkin emang ada, tapi gue gak yakin dia bener-bener mengidap itu). Karena FKUI terasing dari fakultas-fakultas lainnya di UI. Saat itu gue berpikir itu alasan yang gak masuk akal. Tapi so what lah, itu jawaban dia.

Sampai beberapa hari yang lalu. Entah kenapa, belakangan ini gue lebih sering merasa kesepian dari biasanya. Dan itu gak enak banget. Apa lagi kalo di asrama sendiri, pas Ira lagi gak ada di kamar. Auranya itu lho, gak banget. Gue sering berpikir untuk main ke rumah Yufi, yang lumayan deket, di Jakal. Tapi gue pikir lagi, ntar gue ngapain di sana? Malah ngerepotin. Akhirnya gak jadi. Gue jadi suka ngirim SMS gak jelas ke orang-orang. All that for the sake of getting rid of my loneliness. Tapi orang-orang emang jarang bales SMS ya, makinlah gue merasa sepi. Gue jadi makin ngerasa berharganya temen yang berharga. Bukan sembarang orang, tapi temen yang berharga, the ones relationship's we would cherish. Gue jadi merasa kayak yang dibilang temen gue, jangan-jangan gue juga jadi phobia sepi.

Memang biasanya ada waktunya gue menginginkan kesendirian, cuma ditemani sama buku dan teh hangat atau kopi (atau smoothie, atau jus, atau pizza, atau scones, tiramisu and other refreshments). Tapi most of the time, I do prefer company. Kemarin gue beli 2 almost identical mug di Mirota. Harganya lumayan, satunya Rp14.800,00, beli 2 hampir 30rb, tapi yang gue pikirkan gue bukan beli gelas, but I was buying a company. Someone to sit and have tea with. Someone to talk to, to share stories and great books. Haha, gue rasa gue sepakat sama perkataan dr. Watson di cuplikan dialog di atas. Friends protect people. From danger, loneliness, anything. You won't realize the price of them untill you lost one.

So, fancy a cuppa? :)

Saturday, 6 October 2012

Refreshment Pascapraktikum Anatomi

Well, hello. So, we meet again. It's very kind of you to spare a little bit of your time to read this piece of.....writing.

Rencana saya sih mau merangkum kejadian-kejadian menarik dari minggu lalu sampai hari ini, atau mungkin kejadian yang saya ingat saja, haha. Pekan ini pekan keempat saya menjalani perkuliahan di FK UGM. Saya akui, tidak mudah memang, bahkan di beberapa subjek (namely, anatomy) saya agak ketetaran untuk mengejar. Bayangkan, kita harus hafal tulang-belulang serta segala lubang dan lekukannya, juga otot-otot yang melekat padanya. Tapi insyaallah dengan tekad yang bulat dan bantuan dari teman-teman sekitar, saya mampu untuk mendapatkan nilai bagus di anatomi, amin.

Jadi minggu lalu, tepatnya di hari Jumat tanggal 28 September lalu, kelompok tutorialku mengadakan pesta kejutan untuk teman-teman kami yang berulang tahun di bulan September, yaitu Shahyla, Citra, dan Agung. Well, sebenernya bukan pesta sih, cuma makan kue bareng aja abis praktikum anatomi. Sekeluranya dari lab anatomi, si Yufi tuh bilang ke mereka bertiga (Shahyla, Agung, sama Citra) kalo pada jangan pulang dulu, ngumpul dulu untuk ngomongin tulang yang nggak sengaja kita patahin, haha, modus..modus. Padahal itu untuk mencegah mereka pulang. Si Agung ada kumpul main DoTA. Citra mau pulang. Shahyla kayaknya juga ada urusan. Jadilah si Yufi menggunakan modus itu untuk mencegah mereka. Sebenernya gue agak bingung juga awalnya, "kok masalah tulang patah dibesar-besarin banget sih?" tapi akhirnya gue membaca bahasa tubuh dan kedipan mata Yufi kalo itu adalah upaya pencegahan pulangnya si trio ultah ini, haha..

Yaudah, setelah itu kita kumpul di bawah pohon di area parkir lab anatomi, yang ada tempat duduknya itu. Rendi sama Nashir yang pergi beli kuenya. Trio ultah udah berhasil kita tahan, tapi kelompok kita belum lengkap, karena Alvin, Nisa, sama Paulina ada wawancara CIMSA. Tapi akhirnya, dengan berbagai usaha yang melibatkan Alvin dan Rendi yang bolak-balik njemputi anak-anak yang belum kumpul, kita bisa kumpul sekelompok. Kue udah dateng, para tersangka sudah di lokasi, kita memberi selamat dan Citra mulai potong kuenya. Si Nashir minta pasang lilin, gue tolak mentah-mentah, hahaha. Gue punya alasan tersendiri untuk gak menyalakan lilin di kue ulang tahun, maaf ya Citra, Agung, dan Shahyla.

Kiri-kanan: Shahyla, Citra, dan Agung. ps: lilinnya gak dinyalain.
Citra yang sadar kamera
Yufi juga sadar kamera. Btw, itu pulpen gue yang dipegang Nashir, kita lagi ngisi formulir MSC (penting gak sih?).
Entah apa yang Agung maksud dengan memosisikan tangannya seperti itu, dan mukanya Nashir gak nyantai banget.
Jadi kita lumayan bersenang-senang setelah praktikum anatomi yang........menjadi beban tersendiri bagi kami. Lumayanlah, cakes and companies. Plus cerita-cerita dan ketawa-ketawa, menghilangkan penat sejenak. Rencananya abis ujian nanti, kita mau nonton di movie box, tapi masih gak tau mau nonton apa. Doain aja lancar ya semuanya, khususnya ujiannya, amin.

Kan, ujung-ujungnya gue hanya mengulas satu event, haha gak papalah. Event ini worth untuk ditulis dalam satu post dan gak digabung sama event lain. Insyaallah di lain waktu gue akan cerita tentang hal menarik lainnya yang menghiasi hari-hari gue, haha..

Oh ya, kalo mau baca recount yang lebih lengkap tentang surprise party ini, cek aja post nya Yufi di sini. Lebih well-written dari pada ini, hahahahahaha :D

Love, Hasna
xoxo